Dugaan upaya penculikan di Balikpapan ramai menjadi pembahasan. Sejak Februari 2026 ini sudah ada 2 pengakuan dugaan kasusnya. Di kawasan Jalan Inpres 3 dan Inpers 2. Indentifikasi pelaku naik motor berwarna merah. Polisi justru mengira sebaliknya.
reviewsatu.com – MINGGU 23 Maret 2026, sekitar pukul 20.15 Wita, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, siswa kelas 5 SD, nyaris menjadi korban dugaan percobaan penculikan ketika berjalan kaki pulang usai Salat Isya di kawasan Jalan Inpres 3, Balikpapan.
Ketika itu, si anak berjalan sendirian dan kondisi lingkungan sekitar dalam keadaan sepi seusai reda hujan deras.
Informasi yang diterima dari kakak korban, Ersa. Adiknya itu berjalan pulang setelah berpisah dengan teman-temannya di masjid. Di tengah perjalanan itu korban dihentikan oleh seorang pria tak dikenal yang mengendarai sepeda motor. Pelaku awalnya menanyakan arah jalan.
“Dia nanya kalau lurus itu tembus ke mana. Adik saya jawab bisa tembus ke Jalan Padat Karya,” ujar Ersa saat diwawancara wartawan pada Selasa, 24 Maret 2026.
Setelah itu, pelaku membuka helm dan terlihat mengenakan masker atau topeng hitam yang menutupi seluruh wajah. Hanya menyisakan bagian mata.
Pelaku kemudian mengajak korban ikut dengan alasan meminta bantuan mengangkat tangga. Untungnya si anak menolak. Pelaku sempat memaksa dan membujuk.
“Dia bilang ‘sebentar saja kok dek’,” katanya.
Korban kemudian melarikan diri menuju rumah dalam kondisi panik. Setibanya di rumah, korban mengalami sesak napas dan sempat kesulitan berbicara.
Setelah kondisinya agak tenang, si anak kemudian cerita kepada kakanya itu. “Adek mau diculik”.
Berdasarkan informasi keluarganya, pasca kejadian itu korban mengalami ketakutan dan hingga belum berani keluar rumah.
Informasinya, pelaku menggunakan sepeda motor Honda Spacy berwarna merah dan mengenakan helm hitam. Ciri lain pelaku tidak terlihat jelas karena wajah tertutup masker atau topeng.
Informasi tersebut juga telah dibagikan melalui media sosial sebagai bentuk kewaspadaan. Nay berharap kejadian serupa tidak terulang dan meminta adanya peningkatan pengawasan di lingkungan permukiman.
“Saya berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini. Mungkin bisa dilakukan patroli di jalan-jalan yang sepi, dan orang tua juga lebih mengawasi anak-anaknya. Kemarin adik saya yang hampir jadi korban, bisa saja besok orang lain,” pungkasnya.
ISU HOAX
Isu dugaan upaya penculikan yang beredar itu, rupanya sempat disebut-sebut tidak benar atau hoax. Bahkan hingga aparat kepolisian mendatangi rumah keluarga korban untuk memastikan kejadiannya pada Jumat, 27 Maret 2026, sekitar pukul 17.00 Wita.
Kakak korban, Ersa (26), kepada Polisi menyampaikan bahwa peristiwa itu benar terjadi. Korban memang sempat dicegat dan diajak oleh pria tak dikenal, meskipun tidak sampai dibawa.
Dalam pertemuan tersebut, korban juga dimintai keterangan, termasuk terkait ciri pelaku dan situasi saat kejadian.
“Saya jelaskan sesuai yang terjadi. Adik saya memang dicegat dan diajak ikut, tapi tidak sampai dibawa,” ujarnya saat dikonfirmasi ulang oleh wartawan.
Menurut Ersa, dalam kesempatan itu pihak kepolisian juga menanyakan identitas keluarga dan data korban sebagai bagian dari pendataan.
Di sisi lain, kepolisian menyampaikan bahwa hasil penelusuran di lapangan tidak menemukan adanya peristiwa percobaan penculikan seperti yang beredar.
Kapolresta Balikpapan, Kombes Pol H.Y. Kumontoy melalui Kasat Reskrim, AKP Agus Fitriadi menyampaikan bahwa informasi tersebut tidak terbukti setelah dilakukan pengecekan.
Dari hasil tersebut, kepolisian menilai tidak ditemukan adanya kejadian sebagaimana yang diinformasikan, serta mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Meski demikian, keluarga korban tetap pada keterangannya. Ersa menegaskan, peristiwa yang dialami adiknya merupakan upaya atau percobaan penculikan, meskipun tidak sampai berhasil.
“Kami tidak bilang berhasil diculik. Tapi memang dicegat dan diajak ikut. Itu yang terjadi,” tekannya.
Peristiwa itu terjadi Minggu malam, 23 Maret 2026, sekitar pukul 20.15 Wita. Sebelum kejadian, korban diantar ke Masjid Darul Muhajirin oleh keluarganya untuk melaksanakan salat Isya berjamaah.
Usai salat, korban sempat berjalan bersama beberapa temannya. Namun di sebuah simpangan tidak jauh dari masjid, mereka berpisah arah. Dari titik itu, korban melanjutkan perjalanan pulang seorang diri.
Jarak dari masjid ke rumah diperkirakan sekitar 350 meter atau kurang lebih 5 menit berjalan kaki. Namun, baru sekitar satu hingga dua menit berjalan sendiri, belum sampai setengah perjalanan, korban dihentikan.
Peristiwa terjadi di Jalan Inpres 3, tepatnya di depan Gang Manunggal, di area dekat rumah kosong dan bak sampah.
Kondisi jalan saat itu relatif sepi karena baru saja diguyur hujan. Tidak terlihat aktivitas warga di sekitar lokasi. Hanya satu kendaraan bermotor yang sempat melintas di jalan tersebut. Di titik itulah, korban dihampiri dari arah belakang oleh seorang pria bermotor.
Pelaku menggunakan sepeda motor jenis Honda Spacy berwarna merah. Ia mengenakan helm hitam dan penutup wajah berupa buff atau masker, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas dan hanya bagian mata yang tampak.
Pelaku mendekat perlahan, lalu menghentikan kendaraan sangat dekat dengan korban, dengan jarak sekitar setengah meter. Ia tidak turun dari motor.
Korban sempat berhenti dan merespons percakapan tersebut selama beberapa detik. Dalam posisi itu, pelaku tetap berada di atas motor dan tidak melakukan kontak fisik.
Saat sebuah kendaraan lain melintas di jalan tersebut, korban langsung memanfaatkan momen itu untuk berlari. Pelaku tidak mengejar. Ia justru memutar arah dan kembali ke arah semula, menuju Jalan Inpres 2.
Korban tiba di rumah dalam kondisi panik. Napasnya terengah, tubuh gemetar, bahkan sempat tidak mampu berbicara maupun minum.
Ia juga tidak langsung bisa menjelaskan apa yang dialaminya. Sekitar 15 menit kemudian, setelah kondisinya mulai stabil, korban baru bisa menyampaikan kejadian tersebut kepada keluarga.
Hingga saat ini, keluarga belum membuat laporan resmi ke kepolisian maupun ke lingkungan setempat. Keputusan itu diambil karena korban telah kembali ke rumah dalam kondisi selamat.
Saat ini, fokus utama adalah menenangkan kondisi anak yang masih syok. Meski begitu, mereka tetap berharap ada perhatian terhadap kejadian tersebut agar tidak terulang.
PERISTIWA SERUPA
Ersa juga menyampaikan bahwa setelah membagikan kejadian tersebut melalui media sosial, ia menerima informasi dari pihak lain yang mengaku mengalami peristiwa serupa.
Dari komunikasi tersebut, disebutkan adanya kesamaan ciri pelaku, mulai dari kendaraan hingga cara mendekati korban. Informasi itu turut disampaikan kepada pihak kepolisian saat klarifikasi berlangsung.
Di tengah perbedaan hasil temuan di lapangan, keluarga tetap menegaskan bahwa kejadian tersebut benar adanya. Mereka juga membantah anggapan bahwa informasi tersebut dibuat-buat atau direkayasa.
Kejadian itu, kata Ersa, awalnya hanya dibagikan melalui media sosial pribadi, sebelum kemudian diketahui oleh jurnalis dan berkembang menjadi pemberitaan.
“Kami hanya menyampaikan apa yang terjadi. Ini bukan hoax,” pungkasnya.
PENGAKUAN LAIN
Usai kabar percobaan penculikan di Jalan Inpres 3, Kelurahan Muara Rapak, Balikpapan Utara beredar. Kini muncul satu lagi pengakuan korban yang sempat dibawa oleh orang tidak dikenal.
Seorang bocah laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 2 SD juga mengaku sempat dibawa oleh pria tak dikenal saat berada di warung di kawasan Jalan Inpres 2, Balikpapan.
Peristiwa tersebut terjadi pada siang hari, sepulang sekolah, sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 Wita. Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada Februari 2026 atau menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Saat itu, korban keluar dari rumah seorang diri untuk membeli mi instan di warung yang berjarak sekitar empat rumah dari tempat tinggalnya. Lokasi warung berada di pinggir jalan, dalam kondisi aktivitas warga yang tidak terlalu ramai.
Di dalam warung, korban didatangi seorang pria yang menggunakan sepeda motor. Pria tersebut mengenakan helm dan penutup wajah berupa buff.
Pelaku kemudian membuka percakapan dengan menanyakan lokasi penjual pulsa. Korban pun menjawab pertanyaan tersebut. Namun setelah itu, situasi berubah.
Menurut keterangan keluarga yang dihimpun dari korban, pelaku kemudian meminta anak tersebut untuk ikut bersamanya. Tidak banyak detail yang diingat korban terkait proses itu, namun ia akhirnya berada di atas sepeda motor pelaku.
“Dia hanya bilang disuruh ikut naik motor,” ujar Rara (31), kakak korban kepada wartawan Nomorsatukaltim, pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Seorang warga sempat melihat korban dibawa pergi menggunakan motor tersebut. Sepeda motor yang digunakan disebut berjenis Honda Spacy berwarna merah.
Informasi itu kemudian menjadi petunjuk awal bagi keluarga saat menyadari korban tidak kunjung pulang.
Berdasarkan keterangan korban, dirinya sempat dibawa ke belakang SD Patra Dharma 1. Di lokasi tersebut, suasana sedang sepi. Di tempat itu korban sempat mengalami kekerasan. Pelaku menampar korban beberapa kali, sebelum akhirnya meninggalkannya di lokasi.
“Pelaku sempat bilang, ‘tunggu di sini, jangan ke mana-mana’,” tutur Rara menirukan cerita adiknya.
Korban tidak mengikuti perintah tersebut. Ia memilih berjalan kaki meninggalkan lokasi dan pulang ke rumah. Dalam kondisi masih membawa mi instan yang dibeli sebelumnya, ia tiba di rumah dengan wajah kebingungan dan tubuh gemetar.
Saat itu, korban tidak langsung mampu menjelaskan kejadian yang dialaminya. Keluarga pun baru mengetahui peristiwa tersebut setelah melakukan pencarian dan memperoleh informasi dari warga yang sempat melihat korban dibawa menggunakan sepeda motor.
Rara menyebut, kejadian tersebut ia sampaikan kepada wartawan setelah membaca informasi kasus percobaan penculikan oleh pria bertopeng di kawasan Inpres 3.
“Adik saya cowok, dan dari cerita yang saya lihat, kayaknya yang diajak itu cowok semua,” ungkapnya.
Kesamaan tersebut, bagi Rara, terlihat tidak hanya pada karakter korban, namun juga pada ciri pelaku. Mulai dari penggunaan sepeda motor Honda Spacy berwarna merah, hingga cara mendekati anak dengan berpura-pura bertanya, dinilai memiliki kemiripan.
Hingga kini, keluarga sempat memiliki rekaman kamera pengawas (CCTV) dari warung tempat awal interaksi terjadi. Namun rekaman tersebut sudah tidak lagi tersedia karena telah terhapus.
Dalam rekaman itu, pelaku terlihat menggunakan helm dan penutup wajah sehingga identitasnya tidak dapat dikenali secara jelas.
Peristiwa ini menambah satu rangkaian kejadian yang melibatkan pendekatan terhadap anak di kawasan permukiman, dengan pola awal berupa interaksi singkat sebelum korban dibawa menjauh dari titik awal.
JALAN SEPI
Kasus bocah 11 tahun yang nyaris menjadi korban penculikan di Jalan Inpres 3, Muara Rapak, Balikpapan, masih menyisakan sejumlah detail yang mengkhawatirkan.
Setelah kronologi awal terungkap, fakta lain ditemuan. Jarak kejadian dengan rumah korban ternyata sangat dekat. Hanya sekitar satu hingga dua menit berjalan kaki dari masjid.
Dari Masjid Darul Muhajirin ke rumah, hanya sekitar satu hingga dua menit berjalan kaki. Tapi di ruas jalan itu pula, ancaman datang.
Pada kejadian Minggu 23 Maret 2026 sekitar pukul 20.15 Wita itu, titiknya bukan di persimpangan ramai, bukan pula di depan rumah warga. Namun pada bagian jalan yang cenderung luput perhatian. Yaitu depan rumah kosong, tak jauh dari bak sampah.
Saat siang hari, ruas ini tampak biasa saja. Dilalui warga, kendaraan sesekali melintas. Namun saat malam, terlebih usai hujan, suasananya berubah. Jalan menjadi lengang, aktivitas warga nyaris tak terlihat.
KEWASPADAAN LINGKUNGAN
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3AKB Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose, menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa yang melibatkan anak di ruang publik menunjukkan pentingnya kewaspadaan bersama.
“DP3AKB menyatakan keprihatinan terhadap kejadian ini. Kejahatan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, sehingga kewaspadaan sangat penting,” ujarnya pada Rabu 25 Maret 2026.
Ia menegaskan, perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. “Semua anak adalah anak kita. Karena itu, perlu kerja sama semua pihak untuk membangun jejaring keamanan sosial,” ucapnya.
Terkait kondisi korban yang mengalami ketakutan pasca kejadian, DP3AKB menyebut pendampingan psikologis dapat diberikan melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA).
“Korban dapat menghubungi UPTD PPA untuk mendapatkan pendampingan psikologis,” kata perempuan yang akrab disapa Eny itu.
DP3AKB juga mengungkapkan bahwa kasus kekerasan atau kejahatan terhadap anak di Balikpapan bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, terdapat kasus seorang anak perempuan yang dibawa oleh oknum satuan pengamanan dan hampir menjadi korban kekerasan seksual.
“Pernah ada kasus di Balikpapan, seorang anak perempuan dibawa oknum satpam lalu hampir diperkosa di semak-semak. Korban berhasil melarikan diri, dan pelaku akhirnya ditangkap,” ungkapnya.
Adapun, detail lokasi kejadian tersebut tidak dipublikasikan. Untuk mencegah kejadian serupa, pihaknya telah melakukan berbagai upaya. Mulai dari komunikasi, informasi, hingga edukasi kepada masyarakat.
Sosialisasi dilakukan hingga tingkat RT dan keluarga, serta melibatkan berbagai pihak. “Upaya ini dilakukan terus-menerus melalui keterlibatan para pihak,” imbuhnya.
Disamping itu, DP3AKB menekankan pentingnya peran orang tua dalam menjaga keselamatan anak, terutama saat beraktivitas di luar rumah.
“Orang tua wajib mengawasi dan memantau keberadaan anak. Jika keluar malam hari, sebaiknya didampingi orang dewasa. Pada dasarnya, malam hari bukan waktu anak berada di luar rumah,” tegas Eny.
Peran lingkungan juga dinilai penting dalam mendukung perlindungan anak. Di tingkat masyarakat, telah dibentuk berbagai struktur pendukung, seperti seksi Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di tingkat RT serta Perlindungan Perempuan dan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PPATBM) di tingkat kelurahan.
“Perlu kerja sama semua pihak untuk menjamin keselamatan anak-anak di lingkungan,” tandasnya. (*)










