Penyebaran kasus suspek campak hampir merata di sejumlah kabupaten/kota di Kalimantan Timur (Kaltim). Selain di Balikpapan dan Kukar yang sebelumnya diberitakan, kasus campak ternyata juga marak ditemukan di Samarinda, Bontang, Kutim dan Berau. Rata-rata penderitanya belum melakukan vaksin.
reviewsatu.com – TEMUAN kasus suspek campak di Balikpapan terus meningkat, jika tahun lalu angkanya hanya puluhan penderita, hingga pekan terakhir ini dari awal tahun meningkat menjadi 200 kasus.
Selain di Balikpapan, beberapa daerah lain sudah merilis angka kasus suspek campak. Dari data yang dihimpun media ini sejak awal tahun, di Samarinda terjadi 72 kasus, Bontang 120 kasus, Kutim 105 kasus, Berau 42 kasus dan Kukar 105 kasus.
Diyakini, kasus campak juga terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Tana Paser, Kutai Barat dan Mahulu. Namun hingga berita ini diturunkan, media ini belum mendapat angka pastinya dari dinas terkait di masing-masing daerah tersebut.
Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Samarinda mencatat peningkatan jumlah kasus suspek campak dalam beberapa hari terakhir. Dari sebelumnya tercatat 62 kasus, sepekan terakhir bertambah menjadi 72 orang yang masuk kategori suspek.
Kendati demikian, Pemkot Samarinda memastikan kondisi tersebut belum dapat dipastikan sebagai kasus campak terkonfirmasi karena seluruh sampel masih menjalani pemeriksaan di laboratorium rujukan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih mengatakan, kasus suspek merupakan laporan dugaan medis terhadap pasien yang menunjukkan gejala mengarah pada campak.
“Suspek itu dicurigai campak dan belum divaksin. Mayoritas yang terlapor memang belum pernah mendapatkan imunisasi campak,” ucap Ismed, Minggu lalu, 15 Maret 2026.
Menurut dia, status suspek berarti kasus tersebut masih dalam tahap dugaan sehingga perlu dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium sebelum dinyatakan positif.
“Namun ini masih dugaan, sehingga kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar positif campak atau tidak,” jelasnya.
Seiring dengan meningkatnya jumlah suspek tersebut, Diskes Samarinda memperkuat langkah pencegahan melalui program imunisasi kejar bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin campak.
Langkah tersebut dilakukan agar kelompok anak yang belum diimunisasi dapat segera memperoleh perlindungan terhadap penyakit tersebut. “Maka kami melakukan program imunisasi kejar agar anak-anak yang belum divaksin dapat segera memperoleh perlindungan,” ujarnya.
Selain percepatan imunisasi, Dinkes juga melakukan upaya peningkatan daya tahan tubuh pada anak-anak melalui pemberian vitamin A. Program ini difokuskan pada kelompok usia yang paling rentan terhadap campak, yakni bayi dan balita.
Pemkot Samarinda menegaskan hingga saat ini status Kejadian Luar Biasa (KLB) belum diberlakukan. Penetapan KLB memiliki mekanisme tersendiri dan umumnya harus melalui keputusan kepala daerah setelah memenuhi sejumlah indikator epidemiologi.
Meski demikian, Diskes tetap meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dengan memperkuat deteksi dini, pelaporan kasus, serta koordinasi dengan puskesmas dan rumah sakit.
KABUPATEN BERAU
Sementara itu di Kabupaten Berau, Diskes setempat juga mencatat peningkatan dugaan kasus campak pada awal tahun 2026. Hingga memasuki minggu kesembilan tahun ini, sebanyak 42 kasus suspek campak ditemukan di sejumlah wilayah di Kabupaten Berau.
Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie melalui Tim Surveilans dan Imunisasi Diskes Berau, Tuty Handayani, mengatakan seluruh kasus tersebut masih berstatus dugaan karena hasil pemeriksaan laboratorium masih dalam proses.
“Tahun lalu selama satu tahun tercatat ada 105 suspek campak, dengan dua kasus yang dinyatakan positif. Sementara di tahun 2026 ini baru berjalan sembilan minggu, tetapi sudah ada 42 kasus suspek campak,” ujarnya, Jumat 13 Maret 2026.
Meski hasil laboratorium belum keluar, penanganan pasien tetap dilakukan sejak awal berdasarkan penilaian medis dari dokter. Langkah ini dilakukan agar pasien segera mendapatkan penanganan dan untuk mencegah kondisi yang lebih parah.
Berdasarkan distribusi wilayah, sebagian besar kasus suspek campak di Berau tahun ini ditemukan di Kecamatan Sambaliung. Dari hasil penelusuran, lebih dari 80 persen kasus terjadi pada individu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi campak.
KOTA BONTANG
Sejak Januari-16 Maret 2026, kasus campak yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Husada Bontang, berjumlah 25 kasus.
Hal itu diakui Kepala Bagian (Kabag) Hukum, Humas dan Kerjasama RSUD Taman Husada Bontang Syariful Rahman. Ia mengatakan, 25 kasus itu merupakan akumulasi dari awal tahun ini.
“Kalau terkait detailnya, kami belum bisa berikan. Tetapi, data yang tercatat sebanyak 25 pasien yang terkonfirmasi menderita campak,” katanya saat dikonfirmasi awak media, Selasa 17 maret 2026.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bahtiar Mabe, mengungkapkan, sejak awal tahun penyakit yang umumnya menyerang anak-anak ini angkanya naik. Tahun 2026 ini, tercatat sedikitnya ada 120 kasus campak di Kota Taman.
“Memang ada sedikit kenaikan. Tapi itu akumulasi dari Januari sampai sekarang sekitar 120 kasus,” ujar Bahtiar, Senin lalu, 16 Maret 2026, di ruang kerjanya, di kawasan Bontang Lestari.
Walau, ia mengakui, sebagian besar pasien yang terinfeksi telah sembuh dan kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Hanya beberapa kasus yang sempat menjalani perawatan.
Sementara itu, Fahrul, warga Bontang mengaku anaknya juga terkena campak. Saat dirawat di rumah sakit, ia melihat setidaknya ada lima kamar yang semuanya pasien campak. Masing-masing kamar berisi dua orang pasien.
“Saat anak saya masuk rumah sakit, saya baru tahu kalau ternyata penyakit campak banyak diderita anak-anak.”
“Nah, hampir semua pasien yang anaknya terkena campak, itu karena tidak imunisasi,” ungkapnya.
Pun ia mengaku, anaknya juga belum melakukan imunisasi. Bukan karena ia tidak percaya dengan imunisasi tersebut. Tetapi, anaknya lahir saat pandemi Covid-19 melanda Tanah Air.
“Saat itu, semua tidak bisa kemana-mana. Akhirnya, anak saya tidak bisa imunisasi,” ucapnya.
Bersyukur, anaknya saat ini telah sembuh. Ia dirawat awal Maret lalu. Sekitar dua minggu anaknya dirawat di rumah sakit.
KUTAI TIMUR
Sama halnya dengan di Samarinda dan Bontang, penyebaran kasus suspek campak juga terjadi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Hingga minggu pertama Maret 2026, tercatat sebanyak 105 kasus suspek campak. Kecamatan Sangatta Utara menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.
Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, penyebaran kasus tidak hanya terpusat di satu wilayah, namun hampir merata di seluruh kecamatan.
“Dari minggu pertama Januari sampai minggu pertama Maret, jumlah kasus suspek campak sudah mencapai 105 kasus dan tersebar di hampir seluruh kecamatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meski tersebar luas, jumlah kasus tertinggi masih didominasi oleh wilayah Sangatta Utara, disusul Teluk Pandan dan Sangatta Selatan.
Menurutnya, kondisi ini perlu diwaspadai karena tingginya mobilitas masyarakat di wilayah tersebut berpotensi mempercepat penularan virus.
Campak sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus morbilli dan dapat menyebar melalui percikan ludah saat penderita batuk atau bersin.
“Penularannya sangat cepat, bisa melalui droplet atau percikan ludah, sehingga perlu kewaspadaan tinggi terutama pada anak-anak,” jelasnya.
Diskes juga mencatat, cakupan imunisasi campak di Kutai Timur saat ini telah mencapai 88 persen untuk dosis pertama. Namun, untuk dosis kedua, cakupannya masih berada di angka sekitar 65 persen, sehingga dinilai masih perlu ditingkatkan.
Sebagai langkah antisipasi, seluruh fasilitas kesehatan diminta aktif melakukan pelaporan kasus melalui sistem surveilans kesehatan. Pasien dengan gejala demam dan ruam kulit juga dianjurkan untuk segera memeriksakan diri serta melakukan isolasi sementara.
“Kalau ada anak dengan gejala campak, sebaiknya tidak dulu beraktivitas di luar rumah atau ke sekolah agar tidak menularkan ke yang lain,” tegasnya.
Sementara itu, merujuk data Kementerian Kesehatan menunjukkan sepanjang 2025 terdapat lebih dari 63 ribu kasus suspek campak di Indonesia, dengan lebih dari 11 ribu kasus terkonfirmasi secara laboratorium. (*)










