Program BBM satu harga tampaknya tidak bisa sepenuhnya dinikmati warga Mahkam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur. Kini tambah persoalan lagi, tak hanya mahal, BBM jadi langka. Pembelian dibatasi dan harus antre.
reviewsatu.com – WARGA di perbatasan Mahakam Ulu (Mahulu) kembali dihadapkan dengan krisis bahan bakar minyak (BBM), menyusul kondisi debit air Sungai Mahakam yang surut akibat kemarau panjang.
Tak hanya BBM, ketersediaan bahan kebutuhan pokok juga semakin menipis, bahkan harganya perlahan merangkak naik. Terutama sekali di wilayah hulu mahakam.
Camat Long Apari, Petrus Ngo ketika dikonfirmasi menyampaikan terkait kondisi beberapa hari terakhir di wilayah tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat di seluruh Kecamatan Long Apari mulai gelisah akibat kondisi air Sungai Mahakam yang menjadi urat nadi mereka terpantau surut.
Warga setempat kembali dihantui sulitnya mendapatkan bahan kebutuhan pokok, termasuk BBM yang menjadi salah satu kebutuhan primer mereka.
Akibat situasi tersebut, harga bahan bakar minyak di tingkat pengecer mengalami kenaikan signifikan. Harga Pertalite dilaporkan bisa mencapai Rp20 ribu per liter bahkan mencapai Rp30 ribu di beberapa tempat.
Kondisi tersebut juga menyebabkan pihak APMS memberlakukan pembatasan pembelian BBM sebanyak 5 liter per kepala keluarga dengan sistem antrean mulai pukul 06.00 Wita, bahkan terkadang dimulai pukul 05.30 Wita.
“Sekarang kondisi air di hulu semakin surut. Masyarakat banyak yang mulai susah cari BBM,” ujar Petrus, Rabu, 28 Januari 2026.
Ia mengatakan, meskipun pemerintah daerah telah memberikan subsidi ongkos angkut untuk membantu kelancaran distribusi. Namun, tingginya biaya operasional akibat kondisi sungai tetap mempengaruhi harga barang di lapangan.
Kenaikan harga BBM dan sembako turut berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari meningkat sehingga menambah beban pengeluaran warga.
Menurutnya, Kondisi ini menjadi tantangan tahunan yang kerap terjadi saat musim kemarau di wilayah hulu. Sehingga diperlukan upaya berkelanjutan untuk menjamin distribusi BBM dan sembako tetap lancar ke kawasan perbatasan.
“Pengangkutan barang kebutuhan pokok tersebut lebih berisiko ketika air sangat surut, dibandingkan cuaca normal biasa. Karena selain penyempitan jalur yang hanya bisa dilalui oleh satu unit angkutan secara bergantian, armada logistik juga harus mengurangi beban muatan di area tertentu, sehingga memakan waktu tempuh hingga 3 hari perjalanan,” ujarnya.
Sementara di wilayah Kecamatan Long Pahangai, meskipun ketersediaan BBM masih terpantau normal, namun volume pembelian terjadi pembatasan sesuai ketentuan.
Masyarakat hanya dibolehkan membeli paling banyak 20 liter, dengan persyaratan harus mendapatkan rekomendasi dari pemerintah kampung.
“Kalau berdasarkan pemantauan terakhir pada Jumat lalu, pasokan BBM ke wilayah kami belum mengalami gangguan signifikan. Harga di APMS tetap Rp10 ribu per liter, namun di tingkat pengecer dijual dengan kisaran Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per liter,” ungkapnya.
IBU KOTA MAHULU
Pun begitu kondisi ketersediaan BBM jenis pertalite di Ujoh Bilang, Ibu Kota Kabupaten Mahulu. Kondisinya juga langka sepekan terakhir ini. Tak hanya pertalite, jenis BBM lain seperti solar dan dexlite tampaknya juga semakin langka, baik di SPBU maupun di pedagang eceran yang tersebar di wilayah Ujoh Bilang.
Dampak dari kelangkaan ini pun menyebabkan harga BBM eceran yang masih tersedia di beberapa titik melambung tinggi, bahkan menyentuh harga Rp29 ribu per liter.
“Tadi saya beli bensin (pertalite) Rp29 ribu satu liter. Mahal banget, tapi mau bagaimana lagi sudah banyak yang kosong,” ungkap Desi salah satu warga Ujoh Bilang, seperti dilansir nomorsatukaltim, Senin, 26 Januari 2026.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa kelangkaan BBM semakin parah. Sebagian besar tempat pedagang BBM eceran di wilayah Ujoh Bilang banyak yang kosong.
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Ujoh Bilang yang terletak di kawasan Jalan Tikah. Bahkan hampir sudah seminggu lebih SPBU ini tutup terus karena tidak adanya pasokan BBM baru.
DISTRIBUSI TERHAMBAT
Wakil Bupati Mahulu, Suhuk menegaskan bahwa kelangkaan BBM yang terjadi di Mahulu saat ini dikarenakan surutnya sungai Mahakam yang menjadi akses transportasi ke Mahulu.
Akibatnya, proses distribusi BBM yang selama ini menggunakan kapal juga ikut terhambat. Selain itu, kata Suhuk, informasinya terjadi penyesuaian terkait angkutan umum di perairan Sungai Mahakam.
Ia menyebutkan, bahwa terdapat proses administrasi yang harus dilalui oleh pihak angkutan, sehingga distribusi BBM sempat mengalami keterlambatan akibat izin yang belum rampung.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa regulasi itu bukan terjadi di Mahulu. “Permasalahan itu bukan di tempat kita. Informasinya, dari Dinas Perhubungan Samarinda meminta penyesuaian kembali terkait izin angkutan mereka,” ujar Suhuk.
Terkait kondisi di Mahulu, Wabup sendiri belum menerima laporan resmi mengenai kelangkaan BBM. Namun, berdasarkan laporan sementara dari lapangan, keterlambatan pasokan disebabkan kapal pengangkut BBM yang masih tertahan di wilayah hilir akibat kondisi perairan.
“Kapalnya masih tertahan di hilir, bukan karena faktor lain. Tapi kalau melihat kondisi air Mahakam saat ini juga semakin surut,” tuturnya. (*/is/dwa)










