Oleh: Michael Fredy Yacob
reviewsatu.com – BONTANG saat ini sudah sangat maju. Setidaknya jika dibandingkan 27 tahun lalu. Yakni, saat daerah ini ditetapkan sebagai kotamadya. Tepatnya pada 12 Oktober 1999. Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonominya yang setiap tahun menunjukkan geliat yang positif.
Walau berdasarkan data di 2024 lalu, pertumbuhan ekonomi Kota Taman malah kontraksi atau mengalami penurunan sebesar 2,51 persen. Sementara, perekonomian kota ini di 2023 tumbuh sebesar 4,16 persen.
Tiga perusahaan raksasa yang menjadi penyumbang besar pertumbuhan ekonomi kota ini. Yakni, PT Badak NGL, PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT Indominco Mandiri. Baru beberapa tahun terakhir, brand-brand ternama mulai masuk.
Dari industri makan minum: KFC, McD, Pizza Hut, Mie Gacoan dan beberapa brand ternama lainnya. Termasuk juga Bontang City Mall yang menambah geliat pertumbuhan ekonomi Bontang semakin positif.
Hadirnya bioskop di Bontang City Mall menarik wisatawan dari daerah tetangga: Kabupaten Kutai Timur. Setiap akhir pekan, mall tersebut pasti penuh. Mobil-mobil dengan nomor polisi daerah Kutai Timur mendominasi –kode daerah R, M dan N untuk Kutim.
Pusat perbelanjaan modern itu hadir di Bontang sejak 1 Desember 2022. Sementara, Cinema XXI mulai beroperasi di mall tersebut sejak 11 Oktober 2023. Kondisi itulah yang membuat pertumbuhan ekonomi Bontang langsung terbang.
Peningkatan ekonomi pun terlihat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bontang yang tumbuh signifikan. Di 2022, APBD Bontang di angka Rp 1,6 triliun. Tahun depannya naik hampir dua kali lipat menjadi Rp 2,6 triliun.
Namun, karena perekonomian Kota Taman memiliki ketergantungan besar terhadap industri Migas, saat harga Migas anjlok, akhirnya pertumbuhan ekonomi terhambat. Walau, APBD saat itu konsisten untuk naik.
Kondisi kota ini sebenarnya sama dengan kota Dumai, provinsi Riau. Usia kota ini juga sama: 26 tahun. Hanya berbeda bulan saja. Dumai resmi jadi kotamadya pada 20 April 1999. Walau, secara luas wilayah, kota ini jauh lebih besar dengan total luas 2.065 kilometer persegi.
Namun, mulai awalnya berdiri kota itu, pertumbuhan ekonomi di sana didominasi oleh sektor pertambangan minyak bumi. Serta saat itu mulai berkembangnya infrastruktur pelabuhan. Kondisi itu terjadi hingga 2010.
Alhasil, berdasarkan catatan BPS Dumai, pertumbuhan ekonomi di sana cukup stabil. Pada 2010, pertumbuhan ekonomi dengan Migas tercatat 4,10 persen. Angka itu naik dari sebelumnya sebesar 2,74 persen di tahun sebelumnya.
Setelahnya, pemerintah Dumai mencoba bertransformasi sektoral. Mereka melirik industri turunan kelapa sawit. Mereka tidak mau terus-terusan bergantung pada industri Migas. Berpindah pada sektor Crude Palm Oil (CPO) dan turunan sawit.
Terbukti, pada 2012, kinerja ekonomi kota tersebut tumbuh kuat. Yakni 10,30 persen. Pembangunan infrastruktur pelabuhan dan kawasan industri mendorong peningkatan nilai tambah (value added).
Di usia yang relatif sama dengan Bontang, saat ini Dumai sudah menjadi pusat pengolahan sawit utama di Riau. Kota itu juga menjadi kota pelabuhan internasional dan salah satu pintu masuk perdagangan Riau. Alhasil, saat ini Dumai berkembang sebagai pusat logistik.
Sementara, di Kota Taman sendiri, baru tahun lalu pemerintah setempat di bawah kepemimpinan Neni Moerniaeni dan Agus Haris baru fokus untuk mengembangkan pelabuhan. Termasuk membangun pelabuhan peti kemas.
Itu juga dengan lokasi yang sangat terbatas. Di sisi lain, pemkot Bontang baru akan mengembangkan wilayah industri. Daerah itu yang nantinya akan menjadi sentra industri. Daerah itu pun terus ditawarkan kepada para investor.
Dalam setiap kesempatan, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni selalu menyebutkan daerah industri di Bontang Lestari itu menjadi salah satu cara pemkot Bontang untuk tidak terlalu bergantung pada industri gas dan pupuk.
Dalam waktu beberapa tahun kedepan, pabrik soda Ash akan berdiri di kota tersebut. Pabrik itu merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sekitar Rp 5 triliun. Di bangun di area lokasi PT Pupuk Kaltim.
Pabrik tersebut nantinya akan memproduksi soda ash dan amonium klorida. Dengan adanya pabrik itu, akan memperkuat Bontang sebagai pusat industri kimia hijau nasional. Di sisi lain, ada wacana akan dibangun pabrik bahan alat peledak untuk memproduksi amonium nitrat.
Nantinya, dengan hadirnya pabrik soda Ash ini, akan memenuhi kebutuhan soda ash nasional yang selama ini bergantung pada impor. Serta dapat mengurangi ketergantungan, dan memanfaatkan produk sampingan (amonium klorida) untuk pupuk.
Dengan investasi sebesar Rp 5 triliun ini, target produksi 300 ribu metrik ton soda ash per tahun. Serta 300 ribu metrik ton amonium klorida/tahun. Di sektor lain, untuk mengurangi ketergantungan terhadap gas dan pupuk, pemkot Bontang juga mulai aktif memasarkan pariwisata.
Memang, beberapa sektor pariwisata selama ini tidak pernah menyumbang terhadap PAD Bontang. Tidak ada pungutan retribusi dari pariwisata. Padahal, kota ini sangat terkenal dengan wisata pulau Beras Basah.
Bahkan, beberapa komunitas selam juga sering menyelam di perairan Bontang. Mereka selalu menyebut bahwa pemandangan bawah laut di kota ini sangat indah. Tak kalah dengan daerah lain.
Juga baru-baru ini, pengembangan penginapan-penginapan di tengah laut juga sedang tumbuh. Hanya saja, belum ada peraturan daerah (Perda) yang mengatur hal tersebut untuk menjadi PAD Bontang. Masih digagas.
Semoga dari upaya tersebut, PAD Bontang bisa sama seperti Dumai. Sehingga, kemandirian fiskal di Kota Taman bisa terwujud. Sebutan Bontang sebagai Kota Industri juga tidak hanya slogan, tetapi bisa terealisasi. Sehingga, pengangguran dan kemiskinan bisa teratasi. (*)










