MAHULU, reviewsatu.com– Jalan Poros yang menghubungkan Kutai Barat (Kubar) dengan Mahakam Ulu (Mahulu) sebentar lagi akan mulus sepenuhnya.
Akses vital yang dulunya sebagian besar hanya berupa tanah, saat ini perlahan dibangun, bahkan sebagian sudah dicor hingga mulus.
Pada tanggal 6 Januari 2025, awak Nomorsatukaltim mencoba melakukan perjalanan darat dari Samarinda menuju Mahulu.
Perjalanan yang sungguh melelahkan karena menghabiskan waktu sekitar 18 jam dengan menumpangi travel yang menggunakan armada minibus, jenis Innova.
Dari Samarinda, kami mulai perjalanan kurang lebih pukul 24.00 wita atau jam 12 malam. Dari Samarinda mobil tancap gas dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam.
Sekitar pukul 2.00 wita, kami berhenti pada sebuah warung kopi di kawasan Jonggon, Kutai Kartanegara (Kukar). Beberapa orang dalam mobil memutuskan untuk keluar untuk membeli rokok dan menyeduh segelas kopi, dan beberapa di antaranya pergi buang air kecil.
Beberapa menit kemudian, perjalanan kemudian dilanjutkan. Dalam perjalanan itu, sang driver (sopir) memilih jalur perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Akasia Andalan Utama (AAU).
Jalur ini disebut-sebut terasa lebih singkat, bahkan memangkas waktu tempuh perjalanan hingga 2 jam lebih, ketimbang jalan Poros Trans Kaltim yang sebagian besar rusak parah.
“Sebagian besar taksi ke Mahulu lewat jalur ini, karena waktu tempuhnya lebih cepat,” kata Andri sang sopir.
Antara jalan trans Kaltim dan jalur HTI tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan bagi setiap pengendara.
Contohnya ketika lewat jalur Trans Kaltim, pengendara tidak kesulitan jika mobil tiba-tiba mogok dalam perjalanan karena banyak bengkel dan mobil yang melintas.
Sedangkan di jalur HTI tidak ditemukan bengkel, bahkan warung makan pun tidak ada.
Maka disarankan, sebelum melintasi jalur ini, pengendara perlu memastikan kendaraan dalam kondisi prima. Misalnya, periksa tekanan angin ban, kondisi mesin, dan pastikan tidak ada masalah mekanis.
“Jalur HTI ini memang cepat, selisih 2 jam lebih dengan jalur poros. Tapi kalau kondisi mobil kurang bagus, sebaiknya jangan lewat di sini, pasti kesulitan, karena tidak ada bengkel di jalur ini,” katanya.
Di jalur HTI juga, setiap pengendara terpaksa harus membayar biaya penyebrangan di Kecamatan Melak. Karena, setiap kendaraan harus menyeberang sungai menggunakan kapal feri tradisional yang terbuat dari kayu dengan mesin ketinting.
Biaya penyeberangan untuk setiap kendaraan roda empat adalah Rp 25.000.
“Biaya penyebrangan di sini Rp 25 ribu satu mobil,” sebut sang sopir.
Usai menyebrang, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan melewati wilayah Melak, dan Barong Tongkok menuju Tering dan belok kiri arah ke Mahakam Ulu.
Sesampai di Wilayah Tering sekitar pukul 10.00 wita. Mobil kemudian berhenti di sebuah rumah makan. Di situlah saya dan beberapa orang dalam mobil melakukan sarapan pagi, yang sebenarnya sudah agak kesiangan.
Beberapa menit setelah makan, mobil yang saya tumpangi kemudian melanjutkan perjalanan menuju Ke Mahakam Ulu.

Dalam perjalanan ke Mahakam Ulu, kondisi jalan tampak mulus, sebagian besar dicor, terutama dari wilayah Kutai Barat.
Meskipun kepala terasa pusing akibat perjalanan jauh, saya memaksakan diri untuk menikmati perjalanan itu sambil melirik kanan-kiri jalan yang sebelum-sebelumnya dikabarkan rusak parah.
Setelah kurang lebih 5 kilometer (KM) dari arah Kutai Barat. Saya melihat beberapa titik yang masih rusak, bahkan lumpur parah. Tak jarang juga mobil terlihat amblas, terutama ketika kondisi hujan.
“Di beberapa titik ini memang sering amblas, apalagi saat licin setelah hujan,” kisah sang sopir.
Namun dari jalur tersebut, terpantau sebagian besar sudah mulus. Perkiraan sisa 10 kilometer (KM) lebih yang perlu dikerjakan segera, namun masih bisa dilewati mobil, asalkan kondisi tidak hujan.
Setelah melewati beberapa titik yang masih rusak karena kondisi jalan masih berupa tanah. Mobil yang saya tumpangi akhirnya tancap gas saat roda bagian depan menginjak aspal di wilayah Kecamatan Laham, tepatnya di kawasan Sungai Rata.
Di kawasan tersebut juga terdapat jembatan panjang yang baru saja diresmikan tahun 2025 lalu, setelah sebelumnya setiap pengendara menyeberangi sungai.
“Sebenarnya tinggal sedikit saja yang jelek jalur Kubar-Mahulu ini. Mudahan tahun ini semuanya bagus,” harap penumpang lainnya dalam mobil tersebut.
Sekitar pukul 16.00 Wita, mobil yang saya tumpangi tiba di Ujoh Bilang, Ibu Kota Mahakam Ulu.
Dengan kondisi jalan Poros Kubar-Mahulu yang terus membaik ini, tentu saja membawa angin segar bagi masyarakat setempat yang selama ini hanya mengandalkan kawasan Sungai Mahakam sebagai jalur transportasi utama, termasuk distribusi barang dan jasa.










