Samarinda, reviewsatu.com – Biasanya peringatan HUT RI dihiasi dengan berbagai lomba meriah, atau aksi di jalan menyuarakan aspirasi. Namun bagi sejumlah warga, hal demikian tidak berlaku.
Contohnya aksi diam selama 80 menit yang dilakukan beberapa warga di Tugu Kebangunan Nasional, depan Gedung Nasional Jalan Panglima Batur, Samarinda, Minggu (17/8/2025) pukul 11.00 Wita.
Aksi ini diprakarsai oleh founder Sumbu Tengah, Rusdianto, dan diikuti sejumlah orang, di antaranya sejarawan Muhammad Sarip.
Menurut Rusdi, aksi hening dipilih sebagai bentuk perlawanan simbolik atas kondisi bangsa yang dinilai belum sepenuhnya menepati janji kemerdekaan.
Baginya setelah melewati beragam euforia seperti kemerdekaan, reformasi, hingga era demokrasi, rakyat masih dihadapkan pada kesenjangan, ketidakadilan, dan kehidupan yang kian terhimpit.
“Suara rakyat kerap hilang ditelan riuhnya kepentingan politik,” kata Rusdi seusai aksi.
Dijelaskan Rusdi, masyarakat sudah kerap berbicara, berteriak hingga turun ke jalan, demi menyuarakan aspirasi, dan menuntut adanya perubahan.
“Namun berkali-kali, yang kita saksikan justru sebaliknya. Semakin banyak kursi untuk orang dekat menjadi pejabat, sementara rakyat berjejal bertaruh nyawa demi sedikit lapangan kerja.”
“Kita menyaksikan mereka tersenyum lebar, saling bercanda, dan menebar tawa di acara-acara kenegaraan, seakan-akan kehidupan rakyat di bawah sana tak sedang dicekik kesulitan,” ungkap Rusdi.
Lebih ironis lagi, lanjut Rusdi, di momen kemerdekaan ini, rakyat ditenggelamkan dalam perayaan yang kehilangan makna.
“Lomba-lomba receh yang tak lagi mengingatkan pada perjuangan, melainkan penuh pembodohan.”
“Makan kerupuk di tanah, memindahkan belut licin, mengadu tubuh dalam permainan yang merendahkan kemanusiaan. Keriangan palsu itu terus ditanamkan sebagai sesuatu yang disebut budaya, dan rakyat percaya,” sindir Rusdi.
Ia menyindir bahwa nasionalisme tidak akan tumbuh dari berbagai perlombaan tadi.
“Padahal di balik cat merah-putih di wajah, rakyat sedang memikul beban hidup yang kian berat,” katanya.
Karena itu aksi diam ini baginya merupakan kritik dari perayaan kemerdekaan yang dianggap kehilangan makna. Lomba-lomba yang ada baginya hanya sarat seremoni, tanpa benar-benar mengingatkan pada perjuangan dan penderitaan masyarakat.
“Diam bukan berarti kalah. Diam adalah perlawanan yang tak membutuhkan teriakan. Diam adalah cara bicara nurani, setelah semua jeritan tak didengar,” celetuknya.
Mengenai lokasi aksi di Tugu Kebangunan Nasional dan Gedung Nasional menurutnya justru sarat makna.
Lokasi ini pernah menjadi markas perjuangan kaum Republiken Kaltim, yang menentang kembalinya Belanda pasca-Proklamasi 1945.
Di tempat ini pula, pada 22 Agustus 1948, untuk pertama kalinya masyarakat Kaltim menggelar peringatan HUT RI.
Sekaligus meresmikan Tugu Kebangunan Nasional, dengan intimidasi dari polisi NICA Belanda.
Dengan aksi sunyi selama 80 menit tersebut, Rusdi cs berharap masyarakat kembali merenungkan makna sejati kemerdekaan.
“Bagi mereka, jeda diam bukan tanda menyerah, melainkan pengingat bahwa rakyat masih menagih janji kemerdekaan yang utuh,” tutupnya.










