Wel Towel

Towel
Baharunsyah.

Reviewsatu.com – Tommy Welly atau Bung Towel akhir-akhir ini menjadi ‘musuh’ bersama masyarakat Indonesia. Bahkan sampai ada petisi agar Towel jangan dikasih panggung untuk tampil di layar kaca. Tapi, bagi saya, keberadan Towel justru perlu. Malah harus. Kenapa harus?

Towel adalah orang yang berani menunjukkan dirinya ‘berbeda’. Berani belok sedikit, mengkritik gelombang naturalisasi yang lagi gencar-gencarnya di lakukan PSSI. Tapi, sayangnya, Towel lagi unlucky. Lagi tidak beruntung. Kenapa? Karena ternyata gelombang naturalisasi oleh PSSI hasilnya justru positif.

Permainan jadi terlihat cantik, sangat memanjakan mata berbeda dari era-era sebelumnya. Passionnya berbeda ketika nonton timnas sekarang. Itu yang saya rasakan. Dulu ketika nonton timnas, respons kita seperti: “Oh, timnas main ya.” Sekarang takdirnya sudah lain. Dimana ada timnas main, hampir semua kafe pasti kebanjiran pesanan nobar.  

Balik lagi ke Towel yang mengkritik program naturalisasi dan keberadaan pelatih Shin Tae-yong (STY). Andai saja program naturalisasi itu gagal. STY gagal memenuhi ekpektasi publik dan PSSI. Kemudian timnas bermain pas-pasan. Atau hasilnya negatif. Publik pasti berpihak pada Towel. PSSI dan STY pasti diserang habis-habisan.   

Jadi, menurut saya, dari sisi brand personal, si Towel ini sesungguhnya cukup hebat berinisiatif mengambil perpektif berbeda dari opini mayoritas. Tapi sayangnya offside dan unlucky. Offside nya, dia cuma mengkritik timnas dan program naturalisasi saja. Dan tentu saja mengkirtik habis STY. Itu pun yang dikritik bukan dari strategi. Tapi personal.

Towel harus fair juga. Problematika sepak bola Indonesia tidak cuma di naturalisasi atau di STY. Coba saja dia bicara lantang kapan penerapan teknologi VAR di pertandingan resmi Liga 1.  Kemudian bahas juga format Liga 1 yang harus diubah, tidak seperti sekarang. Pemuncak klasemen belum tentu jadi juara liga. Harus bertanding lagi dengan format championship.

Belum lagi pembinaan di akademi klub. Persoalannya sekarang, anak-anak junior yang dibina di klub, mereka mau jadi apa. Kalau gagal jadi suksesor di klub utama, nanti mereka akan main di mana. Siapa yang mau menampung mereka bermain kelak? Ini terjadi karena kita tidak punya format kompetisi resmi khusus tim junior seperti halnya di liga utama. Yang ada cuma pertandingan uji coba. Lebih mirip tarkam menurut saya.

Ngomong-ngomong soal tarkam di Indonesia ini banyak diadakan. Untuk membangun budaya sepak bola agar mengakar, seperti halnya di Brazil, ini bagus. Di Brazil liga-liga tarkam banyak mencetak pemain-pemain dengan skil di atas rata-rata. Contohnya Ronaldinho sampai Neymar. Tapi agar ini menjadi kompetisi yang profesional, itu yang belum ada payung hukum atau regulasinya. Artinya nasib liga tarkam ya hanya berakhir begitu-begitu saja. Kalau kalah tersisih, menang dapat hadiah. Selesai. Tidak ada tawaran bagi pemain untuk bermain di klub-klub profesional.

Masih ada lagi. Wasit. Kapan kita punya wasit yang berlisensi bisa memimpin pertandingan internasional. Wasit-wasit kita lebih banyak memimpin di dalam kandang. Itu pun kadang jadi sasaran amukan supporter kalau salah ambil keputusan. Ini lagi, supporter. Mentalitas bar-bar supporter juga harus dikikis. PSSI harus punya ketegasan memberi sanksi yang ‘banyak’ bagi klub kalau supporternya bermental preman dan tidak menjunjung tinggi nilai fair play. Dan masih banyak lagi saya kira benang kusut sepak bola Indonesia yang harus diluruskan perlahan demi perlahan.

Itu loh Bung Towel, substansi sepak bola Indonesia yang harus anda kritik. Jadi, naturalisasi itu hanya satu bagian, bukan yang susbtansial. Makanya jangan salah kalau mayoritas rakyat Indonesia membenci dia. Bahkan sampai ada tagar di media sosial, #stopbahastowel.  

Kayaknya Bung Towel ini harus punya partner branding yang tepat. Atau orang terdekat yang mau membimbing dia ke arah yang jelas dan subtansial. Agar ketika dia berbicara, semua dapat pencerahan dari lisannya. Kecuali, memang dari sononya dia suka hal yang berbau kontroversial, saya pilih no comment. 

Sumber: nomorsatukaltim.disway.id